Angsana - Dia Gugur, namun Indah
Kadang-kadang aku menakar.
Kadang-kadang aku menimbang.
Kadang-kadang hasilnya tak pasti.
Kadang-kadang kuulangi.
Kadang-kadang menjadi letih.
Lebih sering kutinggal pergi.
Anggun baru saja selesai mengikat tali sepatunya ketika suara getar ponsel membuyarkan konsentrasinya. Sebuah nama yang sempat dirindukannya muncul di layar. Tak perlu menunggu waktu lama, Anggun segera tahu apa yang harus dilakukan selanjutnya. Dan seperti biasa, tak ada lagi tombol hijau di mata Anggun ketika ponselnya bergetar kembali. Dia tersenyum manis hanya untuk memberi sambutan hangat pada setiap panggilan yang selalu ia tolak, dan tolak.
Nama itu, Dean. Laki-laki yang telah membuat Anggun mampu mempercayai kembali apa itu rindu dan cinta. Namun, lagi-lagi Anggun dibuat letih. Ternyata Dean hanyalah bagian daftar isi dari buku kehidupannya. Nama laki-laki itu tidak akan menyentuh bagian prolog apalagi epilog. Sebelum terlambat menyadari, Anggun cepat-cepat menutup bukunya. Dia bersumpah tidak akan ada lagi laki-laki yang mengisi daftar isi nya. Sudah cukup. Dia jengah karena buku nya belum pernah menyentuh prolog sama sekali.
Ting!
Anggun segera berdiri, membiarkan ponselnya bergetar diatas meja. Dia harus segera melayani pelanggan yang datang. Berbagai kuntum bunga sudah ia tata sejak pagi. Namun, baru siang hari pelanggan pertama datang ke toko bunganya. Anggun baru saja membuka pintu yang menghubungkan rumah dengan tokonya, untuk kemudian hanya mampu menghembuskan nafasnya perlahan. Seorang laki-laki berusia sekitar 25 tahun, berdiri dihadapannya. Senyumnya lebar dengan deretan gigi rapi yang semakin memberikan kesan ramah.
“Iya, Mas. Mau antar buket bunga lagi ya?” Anggun tetap memaksakan senyumnya meskipun dia sudah tau apa jawaban laki-laki dihadapannya kini.
“Hehe iya, Mbak. Seperti biasa ya, Mbak.. Mbak silakan tanda tangan di daftar penerima paket. Sebentar saya cari dulu” laki-laki yang ternyata adalah pengantar paket tersebut segera sibuk mengaduk-aduk isi tas kecilnya.
*...*...*
“Buket mawar putih lagi, Nggun?” tanya seorang perempuan yang baru saja keluar dari pintu pantry. Di tangan kananya tergenggam secangkir kopi yang asapnya menyeruak beradu dengan udara siang yang mulai mendung. Perempuan itu bernama Caca, teman sekaligus karyawan di toko bunga milik Anggun. Usianya yang terpaut 2 tahun lebih tua dibanding Anggun, membuat Caca tidak hanya menjadi sosok teman melainkan kakak yang selalu Anggun dengar nasihatnya.
Anggun tidak menjawab pertanyaan Caca. Dia hanya menggangguk pelan seraya mencatat beberapa pesanan buket bunga untuk minggu ini. Caca melangkah mendekat ke arah Anggun. Dia memilih duduk di ujung meja tepat di sebelah Anggun.
"Aneh ya, lo jualan bunga tapi selalu dikirimi bunga juga. Mana udah hampir sebulan ini lho dia ngirim buket yang sama. Dan anehnya lagi nggak ada nama pengirimnya, dia cuma menuliskan hari dan tanggal dimana buket bunga ini akan lo terima dan jugaaa....” kalimat Caca menggantung di akhir kata membuat Anggun yang tadinya fokus mencatat menjadi sedikit tertarik.
"Yang bikin anehnya lagi, lo nggak pernah mau jualan mawar putih. Kenapa sih?” tanya Caca sembari membolak-balik kartu ucapan yang diambilnya dari buket bunga milik Anggun.
“Nggak suka aja sama mawar putih, Mbak” jawab Anggun singkat.
“Halah, alasannya ituuuu teruuuuus. Padahal banyak customer yang request lho. Lo nggak berminat nambah produk gitu?”
Anggun hanya tersenyum. Kemudian kepalanya menggeleng kuat-kuat.
*...*...*
Pagi itu, langit sangat cerah. Warna birunya seakan memberikan nyawa pada siapapun yang memandangnya. Matahari juga tengah begitu bersahabat dengan kulit. Tidak panas namun juga tidak mendung.
Diantara deru mesin montor yang timbul tenggelam dibawah sana, Anggun masih berdiam diatas ranjangnya. Wajahnya menghangat terkena sinar matahari yang memantul melalui jendela kaca. Tatapannya menatap dalam kearah sebuah wadah besar berisikan mawar putih yang selalu dikirimkan oleh orang yang tak diketahuinya. Diam-diam, Anggun menyukai kiriman misterius tersebut, meskipun di depan Caca dia berusaha mati-matian menyangkal kebahagiaannya. Sekumpulan mawar putih yang tengah bergerombol dihadapannya kini tetaplah mawar putih yang menjadi favoritnya sejak dulu. Meski wujudnya selalu mengingatkan pada hari dimana ia kehilangan salah satu daftar isi dalam bukunya, namun tak pernah sedikitpun ia melupakan nyawa yang disalurkan dari bunga berduri itu. Anggun tersenyum. Jika dulu Dean lah yang menjadikan harinya penuh makna, kini mawar putih dari sosok misterius itulah yang menjadi sumber nafasnya.
“Nggun, udah bangun? Kita ada jadwal kirim bunga. Nggun... Anggun. Woy!!! Bangun ah, kebo banget sih!!!” Caca berteriak di depan kamar Anggun bak orang kesetanan. Anggun yang tidak ingin membiarkan lubang telinganya dipenuhi dengan gelombang suara cempreng khas Caca, segera bangkit dari tepi ranjangnya.
“Iya, Mbak. Nih udah bangun kok. Cuma belum mandi aja” Anggun cengar-cengir sembari mengikat kuda rambut panjangnya.
“Nggak usah pake sesi mamah dedeh, Mbak. Aku nggak lupa jadwal dan udah bangun sejak 30 menit yang lalu. That’s enough just to say hello to the morning sun” sergah Anggun cepat begitu mengetahui perempuan di hadapannya membuka mulut, bersiap memberikan sarapan ceramah.
“Huh, oke oke. Gue nggak akan ceramah panjang lebar, udah capek gue teriak-teriak gedor-gedor pintu. Ntar kalau suara gue ilang yang ada Mas Aryo nggak ngenalin suara merdu gue lagi deh” cerocos Caca lalu pergi meninggalkan Anggun yang masih berdiri di depan pintu kamarnya sambil geleng-geleng kepala melihat tingkah temannya satu ini.
*...*...*
Laki-laki itu tampak gusar menatap layar laptop dan sebuah benda pipih persegi panjang di samping tangan kanannya. Beberapa email dari klien-klien perusahaan ternama sama sekali tidak mengundang perhatiannya. Matanya justru hanya tertuju pada ponselnya yang seakan tak menunjukkan tanda-tanda kehidupan. Dengan cepat, tanganya kembali meraih ponselnya, mengetikkan beberapa digit angka sebagai password, dan langsung meluncur ke aplikasi chatting. Nihil. Harapan yang semalam diterbangkannya ke langit melalui cahaya rembulan kini seakan raib ditelan bumi. Dia kembali menghempaskan ponselnya hingga membentur meja dan menimbulkan bunyi cukup keras. Matanya mencoba kembali fokus pada pekerjaannya di laptop, namun pikirannya tak pernah bisa berbohong.
“Aaaarrrgghhhh!!!” laki-laki itu berteriak sambil menjambak rambutnya sendiri. Dia frustasi karena sama sekali tak bisa fokus pada pekerjaannya.
Mendengar teriakan laki-laki itu, seorang perempuan setengah baya tergopoh-gopoh berlari dari balik meja kasir menuju tempat duduk di dalam private etalase – begitu mereka menyebut sebuah ruangan semi private di dalam cafe yang hanya bisa diisi satu buah bangku – tempat laki-laki tersebut berada.
“Pak... Bapak kenapa? Ada yang bisa saya bantu? “ pelan, suara perempuan setengah baya itu sangat pelan. Sepelan angin yang berhembus di telinganya. Ditatapnya lekat-lekat laki-laki dihadapannya yang kini malah membuang muka kearah jendela kaca dengan view gedung-gedung pencakar langit.
“Saya nggak apa-apa. Tolong buatkan saya espresso lalu tinggalkan saya sendiri.” Titah laki-laki tersebut.
“Baik, Pak”
Perempuan setengah baya itu mahfum. Jika tuannya meminta secangkir espresso hangat, maka bayangan seseorang tengah berkelana di alam pikirannya.
*...*...*
“Oke, Nggun. All is ready set. Invoice udah gue print. Terus bunganya udah gue cek. Jumlah tangkai oke. Vas aman, ngga ada yang rusak. Terus apa lagi ya... ehmmm, kayanya udah semua sih. Tinggal kita anterin aja” Caca memberi tahu Anggun mengenai kelengkapan pesanan bunga sebelum berangkat. Tangannya sibuk menata invoice yang siap diserahkan kepada customer. Anggun segera mendekati Caca yang tampak kewalahan dengan lembaran-lembaran ditangannya. Sembari meneliti agar tak ada satupun invoice yang tertinggal, Anggun membantu Caca memasukkan seluruh print out invoice kedalam beberapa amplop yang telah diberi kode tertentu untuk memudahkan customer menghitung berapa nominal yang masih terhutang di periode-periode sebelumnya.
“Nggun, Roses Cafe hari ini jatuh tempo hutang yang dua bulan kemarin ya? Dia bilang mau bayar kapan? Takutnya hutangnya makin menumpuk, modal kita yang macet” Anggun mengangkat satu bendel invoice seukuran HVS.
“Iya, Mbak. Kemarin udah hubungin aku kok. Janjinya mau lunas hari ini sekalian sama pembayaran orderan”
“Ih tumben banget, ngelunasin hutang sekalian bayar orderan. Profitnya lagi naik kalik ya” seloroh Anggun seraya kembali mengambil beberapa amplop tambahan.
“Iya kalik ya, Mbak” jawab Anggun di sela-sela tawa ringannya.
*...*...*
Siang itu, Roses Cafe tampak lengang. Hanya terlihat beberapa orang dengan setelan jas super rapi duduk melingkar di salah satu meja di area outdoor cafe. Sepertinya mereka adalah para CEO yang tengah berdiskusi mengenai strategi perkembangan perusahaan.
Ini adalah kunjungan Anggun kesekian kalinya di Roses Cafe. Dan sudah kesekian kali pulalah dia selalu jatuh cinta dengan eksterior berikut interior yang ditata dengan sangat apik. Di bagian depan cafe, terdapat jalan setapak yang dikelilingi pohon-pohon rindang serta rumput jepang. Inilah yang disebut dengan area outdoor. Sedangkan, konsep indoornya dibuat dengan mengombinasikan antara nuansa vintage dengan green space. Membuat siapapun yang berada didalamnya seperti kembali ke masa lampau sekaligus merasakan kesejukan dari tanaman indoor yang diletakkan di banyak sudut.
Anggun dan Caca melangkahkan kaki menuju area dalam cafe. Setelah menyapa beberapa karyawan yang lalu lalang mengantar cangkir-cangkir berisi minuman hitam pekat, akhirnya mereka sampai di depan meja kasir. Mengetahui kedatangan keduanya, penjaga kasir tersebut segera bangkit dan tersenyum ramah sembari mempersilakan mereka untuk duduk. Tak lama kemudian, seorang perempuan dengan setelan kemeja biru muda dan jeans warna cream, muncul dari sebuah ruangan yang terletak persis di samping kasir.
“Anggun, bisa saya cek invoice nya?” tanpa basa-basi, perempuan itu segera menuju ke inti pembicaraan, yaitu terkait hutang. Tanpa perlu menjawab pula, Anggun segera memberikan beberapa amplop yang telah dibawanya dari rumah.
“Oke saya cek di dalam dulu ya. Sekalian nunggu saya, boleh minta tolong dibantu menata bunganya di meja?” perempuan itu kembali bertanya, atau lebih tepatnya menyuruh. Anggun dan Caca hanya bisa mengangguk mantab.
“Mbak Retno, tolong Caca dan Anggun diarahkan di meja mana saja mereka harus menaruh bunga. Pastikan nggak ada yang tertinggal ya. Saya mau cek invoice dulu di dalam” perempuan itu kembali masuk ke dalam ruangannya sembari memberikan perintah pada sang penjaga kasir.
“Baik, Bu”
“Mbak Caca, nanti taruh aja bunganya di area outdoor. Nah, kalau Mbak Anggun yang didalam saja, biar nggak gosong kulitnya hehehe” Retno, sang penjaga kasir itu mencoba memberikan lelucon garing. Caca yang merasa jadi korban pilih kasih langsung mendelikkan matanya ke arah Retno yang kemudian hanya dibalas dengan cengirang kuda.
Tanpa ba-bi-bu lagi, keduanya segera beraksi. Anggun menenteng satu keranjang penuh vas bunga dan segera menaruhnya diatas meja yang telah ditunjuk Retno. Sedangkan Caca hanya perlu membawa beberapa vas bunga untuk dipajang di setiap tepi luar jendela.
“Mbak, ini nanti yang bunga lily putihnya buat yang di dalem ya, Mbak” Retno mengambil sebuah vas bunga lily putih dan menyerahkannya pada Anggun yang terlihat sudah selesai meletakkan bunga di setiap meja.
“Lho, tapi disana kayaknya ada orang deh, Mbak. Gimana dong? Etis nggak nih?” tanya Anggun seraya mengusap peluh di dahinya.
“Nggak apa-apa, Mbak. Nggak akan mengganggu kok”
“Eh ini ya, Mbak Anggun. Tolong. Saya mau ngelayanin customer dulu” Retno meraih tangan kanan Anggun dan memberikannya secara paksa vas bunga tersebut.
Anggun segera melangkahkan kakinya menuju ruangan yang disebutkan Retno tadi. Hanya tinggal beberapa langkah untuk mencapai ruangan, hingga sejurus kemudian ponselnya bergetar. Setelah berhasil mengambil ponsel dari dalam tas, Anggun menghela napas panjang. Diabaikannya panggilan itu untuk yang kesekian kalinya. Namun, volume nada deringnya yang cukup keras telah berhasil membuat seseorang di dalam sana menoleh. Anggun yang sudah kembali menekan tombol merah, mencoba kembali fokus pada pekerjaannya. Hingga tibalah saat dimana mata Anggun dan tatapan orang tersebut saling beradu. Detik itu juga, Anggun yakin bahwa bumi tidak lagi berputar pada porosnya. Tubuhnya seketika mematung. Otaknya berpikir keras mencari cara untuk menyangkal apa yang ditangkap indera penglihatannya. Nihil. Tak ada sangkalan akurat yang bisa dilakukan otaknya, karena apa yang dilihatnya, memang seperti itu adanya.
Laki-laki itu berdiri. Jauh di dalam lubuk hatinya, dia bersorak gembira. Jika bahagia adalah langit diatasnya, maka warna birunya mengalahkan seluruh varian biru dimanapun. Namun, reaksi tubuhnya jauh berbeda. Dia membeku sedingin kutub di ujung utara bumi.
Anggun baru saja dengan tanpa sengaja akan menjatuhkan vas bunga yang tengah dibawanya, ketika Caca dengan sigap menahan tangannya. Anggun terkesiap. Lamunannya mendadak buyar.
“Anggun, are you OK?” Caca yang merasa ada hawa dingin di sekitarnya bertanya hati-hati. Anggun hanya membalas dengan anggukan singkat.
Tak butuh waktu lama bagi laki-laki itu untuk segera keluar dari ruangannya. Dia melangkahkan kakinya dengan pelan namun pasti. Dihadapannya kini tengah berdiri sosok yang selama ini dirindukannya. Berbagai bentuk komunikasi seakan gagal. Dia hampir saja putus asa ketika semesta dengan ajaib mempertemukannya dengan sosok tersebut, secara langsung.
“Mbak, ayo kita pulang. Aku udah selesai nih” Anggun menoleh kearah Caca yang tengah menatap laki-laki yang berjalan kearah mereka. Mendengar kalimat Anggun, Caca mengalihkan perhatiannya, lalu mengangguk takzim.
“Anggun, wait, please!” laki-laki itu tiba meski tidak tepat waktu, paling tidak, dia tidak terlalu terlambat. Baru saja Anggun dan Caca berbalik badan, bersiap meninggalkan tempat itu, ketika sebuah suara menahan kepergian mereka. Caca berbalik badan terlebih dahulu, kemudian disusul oleh Anggun.
“Nggun, gue pulang dulu aja kalik ya. That man seems like need your time” Caca berbisik di telinga Anggun. Ingin rasanya Anggun menggeleng kuat-kuat. Namun, bukan Caca namanya kalau nggak iseng. Tanpa menunggu jawaban, Caca berlalu meninggalkan mereka berdua.
Menyadari kepergian Caca, laki-laki itu semakin berjalan mendekat kearah Anggun. Aroma tubuh yang dulu menjadi candu bagi Anggun, kini kembali menyeruak, menusuk hidungnya, membuatnya seakan kembali ke masa-masa dimana dia ingin waktu berhenti untuk selamanya.
“Stop right there!” Anggun berkata setengah berteriak sebelum laki-laki itu semakin mendekat.
“Anggun.. Aku mohon. I just need your time” laki-laki itu menghentikan langkah. Ada semburat bening di kedua matanya. Di seberang sana, Anggun pun sekuat tenaga menahan tangisnya. Namun gagal. Satu bulir air mata jatuh di kedua pipinya.
“Saya rasa dua tahun sudah cukup jelas, Dean. Bahkan tanpa Anda bersusah payah menjelaskan” Tersenyum. Anggun berusaha menepis segala amarahnya dengan tetap memberikan senyum.
“Baik. Saya permisi” ucap Anggun seraya membalikkan tubuhnya. Tak perlu menunggu waktu lama, Dean tahu apa yang harus dia lakukan. Baginya, saat ini semesta tengah memberinya kesempatan emas. Dia tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan itu sedikit pun.
“Anggun, kita seperti dua orang asing yang nggak pernah kenal sebelumnya” Dean merengkuh Anggun dari belakang, membenamkan wajahnya diantara helai-helai rambut panjang Anggun. Tubuh Anggun menegang. Wajahnya mendadak pias. Ada apa ini? Kenapa diam-diam di dalam lubuk hatinya dia merindukan dekapan Dean?
“I need your time, Nggun. Aku mau jelasin semuanya, dari awal. Setelah itu, aku janji, kamu boleh pergi” Dean semakin mengeratkan pelukannya membuat Anggun semakin nyaman.
“Oke. Tapi saya nggak bisa janji apakah itu akan mampu mengubah persepsi saya terhadap Anda” Anggun melepaskan tangan Dean yang masih melingkar di pinggangnya. Dia berbalik badan.
Dean semakin yakin bahwa semesta sedang berbaik hati padanya. Dia tersenyum lalu meraih tangan Anggun. Naas, Anggun menjauhkan tangannya dari jangkauan Dean.
“Maaf. Saya bisa sendiri”
Dean membawa Anggun masuk kedalam ruang semi private yang sejak beberapa jam lalu menjadi sangkar pribadinya. Anggun duduk di kursi yang kosong, berseberangan dengan kursi Dean. Tanpa basa-basi, dua buah tiket penerbangan beserta sebuah amplop di daratkan begitu saja kehadapan Anggun. Anggun tersentak. Ditatapnya Dean yang duduk tenang di depannya.
"Apa ini?” Anggun merasa tidak berselera menatap lembaran di depannya.
“Dua tahun ini aku memang sengaja pergi, Nggun. Aku memang sengaja jauh dari kamu. Aku juga sengaja memutuskan komunikasi dengan kamu. Dan aku juga sudah sengaja membuat kamu seperti hidup dalam gua. Gelap dan tanpa tau arah kemana kamu bisa menemukan aku lagi....” Dean menjeda kalimatnya. Membiarkan Anggun menatapnya dengan mata penuh air mata dan amarah.
“Tapi, dua tahun itu aku juga membiarkan segala rasa bersalah makin menggunung. Aku membiarkan segala rasa rindu berkelana entah kemana. Aku membiarkan seluruh pengharapan diuji oleh waktu. Aku sama jatuhnya dengan kamu, Nggun. Bedanya aku pelaku dan kamu korban...” Dean kembali melanjutkan kalimatnya.
“Saya nggak butuh basa-basi” Anggun sudah muak dengan sambutan panjang Dean yang seakan tak kunjung selesai.
Dean menghela nafas panjang. Dia harus jujur atas semuanya. Anggun perlu tau alasan menghilangnya dia dua tahun belakangan ini.
“Aku membangun rumah di Stewart Island...” Anggun dengan sabar menanti kalimat selanjutnya yang akan keluar dari mulut Dean.
“.....untuk kita”
Anggun tercekat. Dia meneguk pelan salivanya. Apa maksud Dean barusan? Membangun rumah? Di Stewart Island? Untuk kita? Kita? Anggun mendadak kembali ke masa kanak-kanak ketika dia sama sekali tidak paham siapa yang disebut ‘kita’.
Anggun masih terdiam di tempat duduknya. Ada luapan yang tak dapat diartikan muncul didalam hatinya. Dia bingung harus merespon seperti apa. Untuk itu, dia putuskan tetap diam menunggu Dean menyelesaikan semuanya.
“Dua tahun yang lalu, aku memutuskan pergi keluar negeri. Aku dapat tawaran bagus di New Zealand sebagai Tax Consultant di perusahaan telekomunikasi. Dari situlah aku bisa membeli rumah di Stewart Island, mewujudkan harapan kamu buat bisa lihat Aurora Australis” Dean menegakkan punggungnya, berusaha merilekskan tubuh. Matanya menatap dalam kearah manik mata Anggun yang semakin berkilau akibat terpaan matahari.
“Aku juga siapin dana kuliah S2 kamu disana. As you wish, Nggun. Aku rasa jumlahnya cukup untuk menutup semua keperluan kuliah kamu disana...”
Anggun lemas. Dia sudah tidak bisa lagi menahan air matanya. Dia terisak dibalik kedua tangan yang menutupi wajah. Dean yang mengetahui hal itu, segera beranjak berdiri. Mendekat kearah gadis yang amat dicintainya dari dulu.
“I don’t have a reason to fall in love with you, Nggun. I have a million reason. Would you be the owner of the home I built in New Zealand?” Dean bersimpuh di samping Anggun. Pada tangannya tergenggam sebuah kotak cincin.
Anggun membuka wajahnya. Dia tersenyum sangat tulus. Tidak ada hari lain yang dia impikan selain hari ini. Dean melamarnya. Setelah menatap lama pada lembaran tiket di depannya, Dean, dan cincin mungil itu bergantian, akhirnya Anggun membuka suara.
“I’m yours, Dean” Anggun kembali tersenyum, senyum yang hampir sirna dua tahun ini. Kemudian kepalanya menggangguk mantab.
- The End -
Membaca tulisan ini mengajak pikiranku lbh rileks dan sedikit ambil waktu berekreasi.Keren untuk mu penulis , alur cita yng disajikan cukup menggugahmenggugah.
BalasHapusTerimakasih kak🙏🏻🤗
Hapus